KISAH NABI AYYUB AS

Loading...

Senin, 17 November 2014


KISAH NABI DAUD DAN NABI SULAIMAN ‘alaihimassalam

dawudNabi Daud Alaihis Salam serta Nabi Sulaiman Alaihis Salam keduanya termasuk golongan nabi-nabi terbesar dari Bani Israil, dimana Allah Ta’ala mengumpulkan pada keduanya antara kenabian, hikmah (ilmu) serta kerajaan yang besar lagi kuat. Nabi Daud Alaihis Salam adalah anggota pasukan tentara yang berjuang bersama Thalut dan termasuk salah seorang nabi dari nabi-nabi Bani Israil yang dipilih menjadi raja yang berkuasa atas Bani Israil karena keberaniannya, kekuatannya serta kelapangan ilmunya dalam bidang politik dan pengaturan pasukan tentara seperti disinyalir Allah Ta’ala di dalam firman-Nya,
إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ [البقرة : 247]
“Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” (Al-Baqarah: 247).
Thalut dan pasukan tentaranya berperang melawan Jalut dan pasukan tentaranya. Pasukan tentara Thalut tetap sabar dalam menghadapi mereka disertai dengan memohon pertolongan kepada Allah, maka Nabi Daud Alaihis Salam mengobarkan semangat yang tinggi dan keberanian yang besar dalam diri pasukan tentara Thalut, dengan tangannya sendiri ia langsung membunuh Jalut raja mereka, sehingga timbul kekacauan dan ketakutan pada pasukan tentara Jalut yang masih tersisa, dan akhirnya mereka kabur melarikan diri dari medan perang dan Allah memberikan kemenangan kepada pasukan tentara Bani Israil (Thalut).
Allah Ta’ala menjadikan Daud Alaihis Salam sebagai nabi dan memberinya hikmah (ilmu) dan kerajaan yang kuat, sebagaimana Allah Subhanahu WaTa’ala berfirman,
وَشَدَدْنَا مُلْكَهُ وَآتَيْنَاهُ الْحِكْمَةَ وَفَصْلَ الْخِطَابِ [ص : 20]
“Dan Kami kuatkan kerajaannya dan Kami berikan kepadanya hikmah dan kebijaksanaan dalam menyelesaikan perselisihan” (Shad: 20).
Allah juga memberinya kekuatan dalam beribadah dan kecerdasan, dimana Allah menyifatinya dengan kedua sifat tersebut yang menunjukkan kesempurnaan seorang hamba, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman,
اصْبِرْ عَلَى مَا يَقُولُونَ وَاذْكُرْ عَبْدَنَا دَاوُودَ ذَا الْأَيْدِ إِنَّهُ أَوَّابٌ [ص : 17]
“Bersabarlah atas segala apa yang mereka katakan; dan ingatlah hamba Kami Daud yang mempunyai kekuatan; sesungguhnya dia amat taat (kepada Allah).” (Shad: 17).
Allah menyifatinya dengan kekuatan yang besar dalam menunaikan perintah Allah, dan ia taat terhadap perintah-Nya karena kesempurnaan pengetahuan terhadap Allah. Allah Ta’ala telah menundukkan untuknya burung dan gunung yang membaca tasbih bersamanya. Kemudian Allah pun menganugerahkan kepadanya suara yang bagus dan merdu; yang tidak dimiliki seorang pun di jagad raya ini.
Ia biasa tidur tengah malam dan bangun pada sepertiga bagian dari waktu malam serta tidur kembali pada seperenam bagian dari waktu malam. Kemudian ia berpuasa satu hari dan berbuka satu hari.
Jika ia bertemu dengan musuh, niscaya orang-orang yang melihatnya akan mengagumi keberaniannya. Allah Ta’ala telah melunakkan besi baginya dan memberi pengetahuan untuknya cara membuat baju besi sebagai alat pelindung tubuh dalam berperang, dan ia merupakan orang yang pertama kali membuat baju besi yang nyaman dipakai dan mempunyai beberapa bolongan sebagai pelindung tubuh serta ringan dibawanya. Allah Ta’ala telah menegurnya karena suatu dosa yang diperbuatnya saat Allah mengutus kepadanya dua malaikat dalam wujud dua orang yang berseteru.
Kedua malaikat itu mendatanginya saat ia sedang berada di mihrabnya, dan ia merasa kaget dengan kedatangan mereka, karena mereka mendatanginya pada waktu dimana tidak seorang pun boleh memasukinya dan mereka memasuki mihrab itu dengan memanjat, seraya berkata, “Janganlah kamu merasa takut; (kami) adalah dua orang yang berperkara yang salah seorang dari kami berbuat zalim kepada yang lain; maka berilah keputusan antara kami dengan adil dan janganlah kamu menyimpang dari kebenaran dan tunjukilah kami ke jalan yang lurus.” (Shad: 22). Selanjutnya salah seorang dari keduanya menceritakan suatu kisah, seraya ia berkata, “Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina,” yang dimaksud dengannya adalah istri “dan aku mempunyai seekor saja. Maka ia berkata, “Serahkanlah kambingmu itu kepadaku dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan.” (Shad: 23). Yakni argumennya lebih kuat dari argumenku, sehingga ia mengalahkanku dalam perdebatan itu. Nabi Daud Alaihis Salam berkata, “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebagian mereka berbuat zalim kepada sebagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang shalih; dan amat sedikitlah mereka ini.” (Shad: 24). Nabi Daud Alaihis Salam mengetahui; bahwa orang itu menghendaki supaya dia-lah yang mendapat putusan tersebut, dan Nabi Daud Alaihis Salam menyadari hal itu, sebagaimana disinyalir dalam firman Allah Ta’ala, “Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Rabbnya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. Maka Kami ampuni baginya kesalahannya itu. Dan sesungguhnya dia mempunyai kedudukan dekat pada sisi Kami dan tempat kembali yang baik.” (Shad: 24-25). Kemudian Allah Ta’ala menghapus dosanya dan setelah bertaubah perbuatannya lebih baik dari sebelumnya, sehingga ia pun memperoleh kedudukan yang agung di sisi Rabbnya dan balasan yang baik. Allah Ta’ala berfirman kepada Nabi Daud Alaihis Salam, “Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah.” (Shad: 26).
Sedangkan berkenaan dengan Sulaiman bin Daud Alaihis Salam, bahwa Allah telah mengaruniakan kepadanya kenabian dan mewarisi keilmuan, kenabian dan kerajaan bapaknya. Allah menambah karunia-Nya kepadanya dengan menjadikannya sebagai seorang raja yang agung yang tidak dikaruniakan kepada seorang pun baik yang sebelumnya maupun yang sesudahnya. Allah menundukkan angin kepadanya, sehingga angin akan berhembus sepoi-sepoi sesuai perintah dan keinginannya, atau angin akan berhembus dengan mudah sekiranya ia menghendakinya, dimana perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan. Allah Ta’ala juga menundukkan jin, syetan serta ifrit (sebangsa syetan) kepadanya, dimana mereka akan melakukan sejumlah perbuatan yang besar sesuai dengan yang dikehendakinya, dan mereka akan melakukan perbuatan yang dikehendakinya seperti: membangun gedung-gedung yang tinggi, patung-patung, piring-piring yang besarnya seperti kolam dan periuk yang tetap berada di atas tungku yang akan pergi dan datang menuruti perintahnya sekiranya ia menghendakinya. Allah Ta’ala juga menundukkan kepadanya pasukan tentara dari kalangan manusia, jin serta burung, dimana mereka berbagi tugas dengan perencanaan yang aneh dan aturan yang sulit dimengerti.
Allah Subhanahu WaTa’ala mengajarinya perkataan burung dan binatang-binatang lainnya, dimana binatang-binatang itu berbicara kepadanya, dan ia pun memahami apa yang dikatakan binatang-binatang tersebut. Karena itu maka burung hud-hud berbicara kepadanya dan melakukan suatu penyelidikan. Kemudian ia pun mendengar seruan seekor semut kepada kaumnya: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (An-Naml: 18). Semut itu memperingatkan dan memerintahkan supaya berhati-hati terhadap bahaya yang mengancam mereka sehubungan dengan kedatangan Nabi Sulaiman Alaihis Salam serta pasukan tentaranya. Nabi Sulaiman Alaihis Salam pun tersenyum mendengar perkataan semut itu seraya berdo’a: “Ya Rabbku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih.” (An-Naml: 19).
Di antara peraturannya dan kepemimpinannya yang baik adalah memeriksa pasukan tentaranya langsung oleh dirinya, meskipun ia telah menunjuk bagi mereka sejumlah pimpinan. Firman Allah Ta’ala, “… lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).” (An-Naml: 17), sebagai dalil atas perbuatan tersebut, bahkan ia pun memeriksa pasukan burung-burung untuk melihat apakah mereka semuanya telah berada di markasnya, seraya ia berkata, “Mengapa aku tidak melihat burung hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir?” (An-Naml: 20). Penafsirannya ayat di atas bukanlah seperti yang dituturkan oleh kebanyakan mufassir, bahwa Nabi Sulaiman Alaihis Salam mencari burung hud-hud untuk mengemban tugas melihat suatu negeri yang letaknya sangat jauh. Sungguh penafsiran itu bertentangan dengan redaksi (pernyataan) Al-Qur’an, dimana Allah tidak berfirman bahwa Nabi Sulaiman Alaihis Salam mencari burung hud-hud, tetapi Allah berfirman, “… dia memeriksa burung-burung.” (An-Naml: 20). Kemudian Nabi Sulaiman Alaihis Salam mengancam burung hud-hud karena penolakannya terhadap perintahnya. Setelah kerajaannya berdiri di atas prinsip keadilan yang sempurna maka ia mengecualikannya, seraya berkata, “Sungguh aku benar-benar akan mengadzabnya dengan keras, atau benar-benar menyembelihnya kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang. Maka tidak lama kemudian (datanglah hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. Sesungguhnya aku menjumpai seorang wanita yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta mempunyai singgasana yang besar. Aku mendapati dia dan kaumnya menyembah matahari, selain Allah; dan setan telah menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka lalu menghalangi mereka dari jalan (Allah), sehingga mereka tidak dapat petunjuk, agar mereka tidak menyembah Allah Yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan Yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Allah, tiada Ilah Yang disembah kecuali Dia, Rabb Yang mempunyai ‘Arsy yang besar.” (An-Naml: 21-26). Dalam tempo waktu yang singkat, burung hud-hud datang menemuinya dengan membawa sebuah berita yang besar.
Burung hud-hud mengabari Nabi Sulaiman Alaihis Salam mengenai adanya sebuah kerajaan di negeri Yaman yang dipimpin oleh seorang ratu, dimana ia telah diberi segala sesuatu yang dibutuhkan sebuah kerajaan, dan ia pun memiliki singgasana yang besar. Karena burung hud-hud telah mengetahui tentang kerajaan, kekuatan serta agama mereka, dimana mereka adalah orang-orang yang menyekutukan Allah Ta’ala dan menyembah matahari, sehingga ia menolak dengan tegas perintah supaya mendatangi mereka. Hal tersebut menunjukkan bahwa binatang-binatang mengenal Rabbnya, mensucikan-Nya, dan mengesakan-Nya, mencintai orang-orang yang beriman dan membenci orang-orang yang kafir yang mendustakan ayat-ayat Allah. Burung hud-hud menunjukkan ketaatannya kepada Allah dengan penolakkannya tersebut. Nabi Sulaiman Alaihis Salam berkata kepadanya, “Akan kami lihat, apa kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. Pergilah dengan (membaca) suratku ini, lalu jatuhkanlah kepada mereka kemudian berpalinglah dari mereka, lalu perhatikanlah apa yang mereka bicarakan (An Naml: 27 – 28).
Kemudian burung hud hud pergi dengan membawa sepucuk surat (dari Nabi Sulaiman Alaihis Salam) yang dijatuhkannya ke dalam kamar ratu tersebut. Ketika ratu tersebut membacanya, maka ia menganggapnya sebagai surat yang sangat penting dan ia merasakan suatu kekhawatiran yang luar biasa, sehingga ia segera mengumpulkan para pembesar kaumnya, seraya berkata, “Hai pembesar-pembesar, sesungguhnya telah dijatuhkan kepadaku sebuah surat yang mulia. Sesungguhnya surat itu, dari Sulaiman dan sesungguhnya (isi)nya: “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” (An-Naml: 29-31). Sepucuk surat yang singkat tulisannya dan padat maknanya, yang mencakup seluruh maksud yang dikehendakinya, sang ratu berkata, “Hai para pembesar berilah aku pertimbangan dalam urusanku (ini).” (An-Naml: 32). Yakni bermusyawarahlah kamu semua denganku. Pernyataannya itu menunjukkan kepemimpinan dan pengambilan kebijakannya yang baik; yang ditetapkannya melalui musyawarah dengan para pembesar kaumnya: “Aku tidak pernah memutuskan sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku).” (An-Naml: 32). Mereka menjawab, “Kita adalah orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat (dalam peperangan), dan keputusan berada di tanganmu; maka pertimbangkanlah apa yang akan kamu perintahkan.” (An-Naml: 33). Yakni kami siap menunaikan perintahmu baik berperang atau berdamai dan kami menyerahkan keputusan tersebut kepada pilihanmu. Akhirnya ia menetapkan niat dan kebijakannya menghindari perang dan memilih berdamai setelah mempertimbangkannya secara seksama serta penuh kehati-hatian, seraya berkata, “Aku akan segera mengirim utusan dengan membawa hadiah kepadanya “dan (aku akan) menunggu apa yang akan dibawa kembali oleh utusan-utusan itu.” (An-Naml: 35). Jika ia termasuk salah seorang raja dari raja-raja yang tidak menghendaki selain kekayaan dunia, dimana terkadang hadiah dapat menodai kemuliaannya, niscaya dapat aku katakan, bahwa niatku berdamai dengannya adalah suatu yang jauh (mustahil). Sedangkan jika ia tidak termasuk golongan raja yang seperti itu, niscaya perdamaian dengannya akan kita laksanakan.
Kemudian ratu itu mengirim beberapa orang utusan yang cerdas, bijaksana, berpengalaman serta berpengetahuan luas. Ketika mereka menyerahkan hadiah kepada Nabi Sulaiman Alaihis Salam, beliau berkata, “Apakah (patut) kamu menolong aku dengan harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu.” (An-Naml: 36). Mendengar perkataan tersebut, maka jelaslah bagi mereka bahwa Nabi Sulaiman Alaihis Salam tidak memiliki tujuan duniawi, tetapi tujuannya ialah menegakkan agama dan menyeru hamba-hamba Allah supaya memeluk Islam. Kemudian ia berpesan kepada para utusan itu tanpa melalui sepucuk surat, seraya berkata kepada salah seorang dari mereka: “Kembalilah kepada mereka sungguh Kami akan mendatangi mereka dengan balatentara yang mereka tidak kuasa melawannya, dan pasti kami akan mengusir mereka dari negeri itu (Saba) dengan terhina dan mereka menjadi (tawanan-tawanan) yang hina dina.” (An-Naml: 37).
Nabi Sulaiman Alaihis Salam mengetahui, bahwa mereka akan tunduk dan memeluk Islam, lalu beliau berkata kepada mereka yang biasa diajaknya bermusyawarah: “Hai pembesar-pembesar, siapakah di antara kamu sekalian yang sanggup membawa singgasananya kepadaku sebelum mereka datang kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.” Berkata ‘Ifrit (yang cerdik) dari golongan jin: “Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgasana itu kepadamu sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; sesungguhnya aku benar-benar kuat membawanya lagi dapat dipercaya.” (An-Naml: 39). Sedangkan jarak perjalanan antara kerajaan Nabi Sulaiman Alaihis Salam dengan negeri Syam adalah dua bulan perjalanan pulang pergi (sebulan perjalanan pergi dan sebulan perjalanan pulang). Kemudian orang yang berilmu dari Al-Kitab berkata, “Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip.” (An-Naml: 40). Berkenaan dengan orang tersebut, maka sebagaimana pendapat mayoritas ahli tafsir, bahwa ia adalah seorang laki-laki yang shaleh yang telah dikaruniai ilmu tentang nama Allah yang sangat agung (Al-Ism Al-‘Azham), jika ia berdo’a kepada Allah dengan nama tersebut, niscaya Allah akan mengabulkannya. Orang tersebut berdo’a kepada Allah dengannya sehingga singgasana itu didatangkan ke hadapan Nabi Sulaiman Alaihis Salam sebelum matanya berkedip. Dimungkinkan bagi orang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab mengetahui sebab-sebab yang telah ditundukan oleh Allah kepada Nabi Sulaiman Alaihis Salam, yaitu sebab-sebab yang dapat dijadikan sebagai perantara untuk mendekatkan atau menarik segala sesuatu yang jauh.
Terlepas dari semua kemungkinan tersebut, bahwa orang tersebut telah sanggup mendatangkan dengan sangat cepat ke hadapan Nabi Sulaiman Alaihis Salam sebuah kerajaan yang besar dengan singgasana yang besar. Karena itulah, ketika Nabi Sulaiman Alaihis Salam melihat kerajaan itu telah berdiri di hadapannya maka ia pun mengucapkan pujian kepada Allah atas karunia-Nya itu, seraya berkata, “Ini termasuk karunia Rabbku untuk mencoba aku apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). Dan barangsiapa yang bersyukur maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, maka sesungguhnya Rabbku Maha Kaya lagi Maha Mulia.” (An-Naml: 40). Kemudian Nabi Sulaiman Alaihis Salam berkata kepada orang-orang yang berada di sekelilingnya: “Robahlah baginya singgasananya.” (An-Naml: 41). Yakni rubahlah di dalamnya dengan mengadakan penambahan dan pengurangan “maka kita akan melihat apakah dia mengenal ataukah dia termasuk orang-orang yang tidak mengenal(nya).” (An-Naml: 41). Nabi Sulaiman Alaihis Salam berharap bahwa pikiran ratu itu akan memujinya, sehingga pikirannya dapat memahami kebenaran. Ketika ratu tersebut datang, maka dikatakan kepadanya: “Serupa inikah singgasanamu.” (An-Naml: 42). Nabi Sulaiman Alaihis Salam mengajaknya melihat singgasana tersebut, dan ketika ratu itu melihatnya maka ia mengakuinya sebagai singgasananya, tetapi ketika ia melihat keadaan di dalamnya, maka ia mengingkarinya, seraya berkata dengan perasaan yang penuh keraguan di antara dua kemungkinan: “Seakan-akan singgasana ini singgasanaku.” (An-Naml: 42). Ratu itu tidak mengatakan, bahwa singgasana itu adalah singgasananya, karena di dalamnya ada perbuahan, tetapi ia pun tidak menafikan bahwa singgasana tersebut adalah singgasananya karena ia mengenal bentuknya, sehingga ia mengatakannya dengan kalimat yang menunjukkan kepada dua kemungkinan.
Nabi Sulaiman Alaihis Salam mengetahui keraguan yang ada di dalam pikiran ratu tersebut. Allah Subhanahu WaTa’ala berfirman, “… kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (An-Naml: 42). Jika perkataan tersebut dilontarkan oleh Nabi Sulaiman Alaihis Salam, maka maknanya ialah kami telah diberitahu mengenai pikiran ratu itu serta kami telah mengetahuinya sebelumnya sehingga kami pun dapat memastikan kepadanya mengenai sesuatu yang telah kami kerjakan sebelum kedatangannya. Sedang jika perkataan itu dilontarkan ratu negeri Saba’ itu, maka maknanya ialah “kami telah mendapat pengetahuan” (An-Naml: 42) tentang raja Sulaiman, dimana ia adalah seorang raja yang mengemban tugas kenabian, membawa risalah dan memiliki suatu kekuatan yang luar biasa sebelum kejadian ini, “dan kami adalah orang-orang yang berserah diri.” (An-Naml: 42). Yakni orang-orang yang tunduk kepada perkataan Sulaiman setelah keadaannya jelas bagi kami, dan seakan-akan perkataan itu didiskusikannya dengan pikirannya yang benar, dan pikirannya berkata kepadanya, “Bagaimanakah ia beribadah kepada selain Allah, dan bagaimanakah pikiran itu dapat bersatu dengan ibadah kepada sesuatu yang tidak memberikan manfaat dan tidak mendatangkan madharat, bahkan mendatangkan kemadharatan pada orang yang menyembahnya?”
Kemudian diperoleh jawaban, seperti disinyalir Allah Subhanahu WaTa’ala dalam firman-Nya, “Dan apa yang disembahnya selama ini selain Allah, mencegahnya (untuk melahirkan keislamannya), karena sesungguhnya dia dahulunya termasuk orang-orang yang kafir.” (An-Naml: 43). Yakni akidah salah yang dipegangnya dan jalan sesat yang ditempuhnya telah menguasai akal sehat orang yang berakal serta menumpulkan kecerdasan orang yang cerdas, sehingga sebab-sebab yang mendatangkan keberkahan yang menjelaskan kebenaran yang semestinya diikuti tertutup baginya.
Nabi Sulaiman Alaihis Salam memiliki istana yang lantainya sangat licin (bening) terbuat dari kaca dan di bawahnya mengalir sungai-sungai sehingga orang yang melihatnya akan menyangka bahwa itu air yang mengalir, karena kacanya sangat tipis, sehingga ketika ia mengatakan kepada ratu Saba’: “Masuklah ke dalam istana.” (An-Naml: 44), maka ratu itu melihat lantai istana tersebut dikiranya sebuah kolam yang besar, sehingga ratu tersebut menyingkapkan kain penutup kedua betisnya. Melihat kejadian itu, maka Nabi Sulaiman Alaihis Salam berkata, “Sesungguhnya ia adalah istana licin terbuat dari kaca.” Mendengar hal itu, maka Ratu Saba’ berkata, “Ya Rabbku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Rabb semesta alam.” (An-Naml: 44). Kemudian ratu Saba’ berserah diri kepada Allah yang diikuti oleh kaumnya. Dalam suatu riwayat diceritakan; bahwa Nabi Sulaiman Alaihis Salam menikahinya. Hanya Allah Yang Maha Mengetahui.
Pada masa Nabi Sulaiman Alaihis Salam; Allah Ta’ala telah menundukkan syetan-syetan kepadanya, dan Allah menyampaikan kepadanya bahwa mereka telah berkumpul dengan manusia untuk mengajari mereka tentang ilmu sihir. Kemudian Nabi Sulaiman Alaihis Salam mengumpulkan mereka, mengancam mereka dan mengambil kitab-kitab sihir mereka dan menguburnya. Ketika Nabi Sulaiman Alaihis Salam wafat, maka syetan-syetan itu datang kepada manusia, seraya berkata, “Sesungguhnya kerajaan Sulaiman didirikan di atas pondasi sihir, kemudian mereka meminta manusia untuk menggali kitab-kitab sihir yang dikubur Nabi Sulaiman Alaihis Salam serta menyebarkan tipu daya mereka kepada manusia dengan mengatakan, bahwa kitab-kitab sihir tersebut diambil dari istana Nabi Sulaiman Alaihis Salam dan sesungguhnya Nabi Sulaiman Alaihis Salam adalah seorang penyihir. Berita itu diyakini oleh sekelompok Yahudi. Kemudian Allah Ta’ala membebaskan Nabi Sulaiman Alaihis Salam dari tuduhan tersebut, dan Allah menjelaskan bahwa sihir itu sebagaimana diketahui dapat mendatangkan kemadharatan. Allah Ta’ala berfirman, “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh setan-setan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (mengerjakan sihir).” (Al-Baqarah: 102). Yakni tidak belajar sihir dan menyetujuinya, melainkan “setan-setan itulah yang kafir (mengerjakan sihir).” (Al-Baqarah: 102). Ini termasuk keagungan Al-Qur’an, dimana ia memerintahkan manusia supaya beriman kepada semua rasul dan mengingatkan manusia terhadap sifat-sifat para rasul yang terpuji serta mensucikan para rasul dari perkataan manusia tentang mereka yang menafikan kerasulan mereka.
Kemudian Allah Ta’ala telah menguji Nabi Sulaiman Alaihis Salam dan mendudukkan di atas kursinya sesosok tubuh, yakni salah satu syetan; dimana ujian itu dimaksudkan sebagai teguran terhadap suatu kesalahan yang telah diperbuatnya dan sebagai cara untuk mengembalikannya kepada ketundukkan yang sempurna kepada Rabbnya. Berkenaan dengan kejadian itu maka Allah Subhanahu WaTa’ala berfirman, “…kemudian ia bertaubat.” . Ia bertaubat kepada Allah Subhanahu WaTa’ala dengan hati, lisan serta badannya; baik lahirnya maupun batinnya, seraya berdo’a: “Ya Rabbku, ampunilah aku dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.” (Shad: 35). Allah Ta’ala mengabulkan do’anya serta memenuhi tuntutannya dengan mengampuni dosanya dan semua yang telah diperolehnya sebagaimana telah dijelaskan.
Allah Ta’ala telah mengkaruniakan Nabi Daud Alaihis Salam dan Nabi Sulaiman Alaihis Salam ilmu dan kebijaksanaan, dan secara khusus Allah telah menambah karuniaNya kepada Nabi Sulaiman Alaihis Salam dengan memberinya kefahaman (terhadap bahasa binatang-binatang), sebagaimana ditegaskan oleh Allah Ta’ala dalam firman-Nya,
وَدَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ إِذْ يَحْكُمَانِ فِي الْحَرْثِ إِذْ نَفَشَتْ فِيهِ غَنَمُ الْقَوْمِ [الأنبياء : 78]
“Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya.” (Al-Anbiya’: 78).
Yakni saat kambing-kambing itu memasuki kebun mereka di malam hari dan merusak tanaman dan pepohonannya, kemudian Nabi Daud Alaihis Salam menetapkan hukum menurut ijtihadnya, bahwa kambing-kambing tersebut menjadi milik pemilik kebun karena menurut pandangannya bahwa pemilik kambing itu harus mengganti kerugian yang diderita oleh pemilik kebun. Kasus itu diadukan kepada Nabi Sulaiman Alaihis Salam, dan ia menetapkan hukuman, bahwa pemilik kambing-kambing harus menggantikan pemilik kebun dalam menggarap, menyirami, mengganti tanaman atau pepohonan yang telah dirusak dan merawatnya, sehingga keadaannya kembali seperti semula (sebelum dirusak). Juga pemilik kambing harus menyerahkan kambing-kambingnya untuk sementara waktu kepada pemilik kebun tersebut untuk diambil manfaatnya seperti air susunya, bulunya dan hasil lainnya yang diperoleh pemanfaatan kambing-kambing tersebut sebagai ganti dari manfaat yang diperoleh dari penggarapan kebunnya dalam tenggang waktu tersebut. Hukuman yang ditetapkan oleh Nabi Sulaiman Alaihis Salam dipandang lebih tepat dan lebih bermanfaat bagi pemilik kambing serta pemilik kebun. Berkenaan dengan kasus tersebut, Allah Subhanahu WaTa’ala berfirman,
وَكُلًّا آتَيْنَا حُكْمًا وَعِلْمًا [الأنبياء : 79]
“… dan kepada masing-masing mereka telah Kami berikan hikmah dan ilmu.” (Al-Anbiya’: 79).
Penetapan hukum di atas setara dengan penetapan hukum yang ditetapkan Nabi Daud Alaihis Salam dan Nabi Sulaiman Alaihis Salam di antara dua orang perempuan yang sedang bepergian dan masing-masing membawa bayi laki-lakinya. Seekor srigala menghampiri bayi milik perempuan yang sudah tua dan menerkamnya. Perempuan yang sudah tua menuduh bahwa bayi yang selamat dari terkaman serigala ialah bayinya, tetapi perempuan yang masih muda menolaknya dan mengatakan, justru srigala itu menerkam bayi milik perempuan yang sudah tua.” Kemudian kedua perempuan itu mendatangi Nabi Daud Alaihis Salam dan mengadukan kejadian itu kepadanya. Karena Nabi Daud Alaihis Salam tidak melihat bukti lain, selain pengakuan masing-masing dari keduanya, sehingga menurut ijtihadnya bahwa bayi itu harus diserahkan kepada perempuan yang sudah tua karena kasihan kepadanya, mengingat usianya yang sudah tua. Sedangkan perempuan yang masih muda, mengingat usianya yang masih muda, sehingga ia masih memiliki kesempatan untuk dikarunia anak oleh Allah Ta’ala di masa mendatang sebagai gantinya. Kemudian masalah itu diadukan kepada Nabi Sulaiman Alaihis Salam, dan ia berkata kepada keduanya: “Bawalah kepadaku pisau, dan aku akan membaginya di antara kamu berdua.” Perempuan yang sudah tua merestui keputusan tersebut. Sedang perempuan yang masih muda ketika ditetapkan penyelesaian masalah itu antara membinasakan dan membiarkannya tetap hidup meski berada di tangan perempuan selainnya, maka ia memilih penyelesaian yang sangat ringan resikonya di antara dua ketetapan tersebut, seraya berkata, “Bayi itu adalah anaknya, hai nabi Allah.” Nabi Sulaiman Alaihis Salam mengetahui sikap alami tersebut yang merupakan bukti nyata, bahwa bayi itu bukan anak perempuan yang sudah tua, karena sikapnya yang merestui penyelesaian dengan cara membaginya menjadi dua bagian dan membinasakannya. Adapun pengakuannya terhadap bayi milik perempuan lain semata-mata disebabkan kedengkian. Dengan demikian, maka jelaslah bahwa bayi itu milik perempuan yang masih muda, ketika ia mengambil sikap mengalah dan bergeser dari keputusan membaginya menjadi dua bagian kepada keputusan membatalkan pengakuannya, sehingga Nabi Sulaiman Alaihis Salam menatapkan keputusan hukum, bahwa bayi itu milik perempuan yang masih muda.
Tidak diragukan lagi, bahwa menetapkan ketetapan hukum yang tepat dalam menyelesaikan masalah membutuhkan sejumlah bukti, sejumlah keterangan yang mengindikasikan pembuktian dan sejumlah saksi. Itulah di antara pemahaman yang diberikan Allah kepada orang yang dikehendaki-Nya.

workshop IT

kegiatan Workshop PAI berbasis IT




Minggu, 17 November 2013

SEJARAH AZAN



Azan
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Langsung ke: navigasi, cari
Azan (ejaan KBBI) atau adzan (Arab: أذان) merupakan panggilan bagi umat Islam untuk memberitahu masuknya salat fardu. Dikumandangkan oleh seorang muadzin setiap salat 5 waktu.
Lafadz azan
Lafadz azan sunni
Lafadz adzan terdiri dari 7 bagian:
  1. Allahu Akbar, Allahu Akbar (2 kali)
    "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar"
  2. Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali)
    "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah"
  3. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali)
    "Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah"
  4. Hayya 'alash sholah (2 kali)
    "Mari menunaikan salat"
  5. Hayya 'alal falah (2 kali)
    "Mari meraih kemenangan"
  6. Ashsalatu khairum minan naum (2 kali)
    "Shalat itu lebih baik daripada tidur" (hanya diucapkan dalam azan Subuh)
  7. Allahu Akbar, Allahu Akbar (1 kali)
    "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar"
  8. Lailaha ilallah (1 kali)
    "Tiada Tuhan selain Allah"
Lafadz azan syi'ah
  1. Allahu Akbar, Allahu Akbar (2 kali)
    "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar"
  2. Asyhadu alla ilaha illallah (2 kali)
    "Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah"
  3. Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah (2 kali)
    "Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasul Allah"
  4. Asyhadu anna Aliyyan Waliyyullah (1 kali)
    "Aku bersaksi bahwa Ali adalah wali Allah"
  5. Hayya 'alash sholah (2 kali)
    "Mari menunaikan salat"
  6. Hayya 'alal falah (2 kali)
    "Mari meraih kemenangan"
  7. Hayya 'ala khairil 'amal (2 kali)
    "Mari berbuat amal kebaikan"
  8. Allahu Akbar, Allahu Akbar (1 kali)
    "Allah Maha Besar, Allah Maha Besar"
  9. Lailaha ilallah (2 kali)
    "Tiada Tuhan selain Allah"
Sejarah azan dan iqamah
Azan mulai disyariatkan pada tahun kedua Hijriah. Mulanya, pada suatu hari Nabi Muhammad SAW mengumpulkan para sahabat untuk memusyawarahkan bagaimana cara memberitahu masuknya waktu salat dam mengajak orang ramai agar berkumpul ke masjid untuk melakukan salat berjamaah.
Di dalam musyawarah itu ada beberapa usulan. Ada yang mengusulkan supaya dikibarkan bendera sebagai tanda waktu salat telah masuk. Apabila benderanya telah berkibar, hendaklah orang yang melihatnya memberitahu kepada umum. Ada juga yang mengusulkan supaya ditiup trompet seperti yang biasa dilakukan oleh pemeluk agama Yahudi.
Ada lagi yang mengusulkan supaya dibunyikan lonceng seperti yang biasa dilakukan oleh orang Nasrani. Ada seorang sahabat yang menyarankan bahwa manakala waktu salat tiba, maka segera dinyalakan api pada tempat yang tinggi dimana orang-orang bisa dengan mudah melihat ke tempat itu, atau setidaknya, asapnya bisa dilihat orang walaupun ia berada ditempat yang jauh. Yang melihat api itu dinyalakan, hendaklah datang menghadiri salat berjamaah.
Semua usulan yang diajukan itu ditolak oleh Nabi. Tetapi, beliau menukar lafal itu dengan assalatu jami’ah (marilah salat berjamaah). (KYP3095) Lantas, ada usul dari Umar bin Khattab jika ditunjuk seseorang yang bertindak sebagai pemanggil kaum Muslim untuk salat pada setiap masuknya waktu salat. Kemudian saran ini bisa diterima oleh semua orang dan Nabi Muhammad SAW juga menyetujuinya.
Asal muasal azan
Lafal azan tersebut diperoleh dari hadis tentang asal muasal adzan dan iqamah: Abu Daud mengisahkan bahwa Abdullah bin abbas berkata sebagai berikut: "Ketika cara memanggil kaum muslimin untuk salat dimusyawarahkan, suatu malam dalam tidurku aku bermimpi. Aku melihat ada seseorang sedang menenteng sebuah lonceng. Aku dekati orang itu dan bertanya kepadanya, "apakah ia bermaksud akan menjual lonceng itu? Jika memang begitu, aku memintanya untuk menjual kepadaku saja". Orang tersebut justru bertanya," Untuk apa?" Aku menjawabnya, "Bahwa dengan membunyikan lonceng itu, kami dapat memanggil kaum muslim untuk menunaikan salat". Orang itu berkata lagi, "Maukah kamu kuajari cara yang lebih baik? Dan aku menjawab, "ya" dan dia berkata lagi dengan suara yang amat lantang:
  • Allahu Akbar Allahu Akbar
  • Asyhadu alla ilaha illallah
  • Asyhadu anna Muhammadar Rasulullah
  • Hayya 'alash sholah (2 kali)
  • Hayya 'alal falah (2 kali)
  • Allahu Akbar Allahu Akbar
  • La ilaha illallah
Ketika esoknya aku bangun, aku menemui Nabi Muhammad.SAW, dan menceritakan perihal mimpi itu kepadanya, kemudian Nabi Muhammad. SAW, berkata, "Itu mimpi yang sebetulnya nyata. Berdirilah disamping Bilal dan ajarilah dia bagaimana mengucapkan kalimat itu. Dia harus mengumandangkan adzan seperti itu dan dia memiliki suara yang amat lantang." Lalu akupun melakukan hal itu bersama Bilal." Rupanya, mimpi serupa dialami pula oleh Umar. Ia juga menceritakannya kepada Nabi Muhammad SAW.
Asal muasal iqomah
Setelah lelaki yang membawa lonceng itu melafalkan azan, dia diam sejenak, lalu berkata: "Kau katakan jika salat akan didirikan:
  • Allahu Akbar, Allahu Akbar
  • Asyhadu alla ilaha illallah
  • Asyhadu anna Muhammadarrasullulah
  • Hayya 'alash sholah
  • Hayya 'alal falah
  • Qod qomatish sholah (2 kali), artinya "Salat akan didirikan"
  • Allahu Akbar, Allahu Akbar
  • La ilaha illallah
Begitu subuh, aku mendatangi Rasulullah SAW kemudian kuberitahu beliau apa yang kumimpikan. Beliaupun bersabda: "Sesungguhnya itu adalah mimpi yang benar, insya Allah. Bangkitlah bersama Bilal dan ajarkanlah kepadanya apa yang kau mimpikan agar diadzankannya (diserukannya), karena sesungguhnya suaranya lebih lantang darimu." Ia berkata: Maka aku bangkit bersama Bilal, lalu aku ajarkan kepadanya dan dia yang berazan. Ia berkata: Hal tersebut terdengar oleh Umar bin al-Khaththab ketika dia berada di rumahnya. Kemudian dia keluar dengan selendangnya yang menjuntai. Dia berkata: "Demi Dzat yang telah mengutusmu dengan benar, sungguh aku telah memimpikan apa yang dimimpikannya." Kemudian Rasulullah SAW bersabda: "Maka bagi Allah-lah segala puji."[1]
Kejadian dalam hadits tersebut terjadi di Madinah pada tahun pertama Hijriah atau 622 M.[2]
Adab adzan
Adapun adab melaksanakan azan menurut jumhur ulama ialah:
  1. muazin hendaknya tidak menerima upah dalam melakukan tugasnya;
  2. muazin harus suci dari hadas besar, hadas kecil, dan najis;
  3. muazin menghadap ke arah kiblat ketika mengumandangkan azan;
  4. ketika membaca hayya ‘ala as-salah muazin menghadapkan muka dan dadanya ke sebelah kanan dan ketika membaca hayya ‘ala al-falah menghadapkan muka dan dadanya ke sebelah kiri;
  5. muazin memasukkan dua anak jarinya ke dalam kedua telinganya;
  6. suara muazin hendaknya nyaring;
  7. muazin tidak boleh berbicara ketika mengumandangkan azan;
  8. orang-orang yang mendengar azan hendaklah menyahutnya secara perlahan dengan lafal-lafal yang diucapkan oleh muazin, kecuali pada kalimat hayya ‘ala as-salah dan hayya ‘ala al-falah yang keduanya disahut dengan la haula wa la quwwata illa bi Allah (tidak ada daya dan kekuatan kecuali dari Allah);
  9. setelah selesai azan, muazin dan yang mendengar azan hendaklah berdoa: Allahumma rabba hazihi ad-da’wah at-tammah wa as-salati al-qa’imah, ati Muhammadan al-wasilah wa al-fadilah wab’ashu maqaman mahmuda allazi wa’adtahu (Wahai Allah, Tuhan yang menguasai seruan yang sempurna ini, dan salat yang sedang didirikan, berikanlah kepada Muhammad karunia dan keutamaan serta kedudukan yang terpuji, yang telah Engkau janjikan untuknya [HR. Bukhari]). (KYP3095)
Menjawab azan
Apabila kita mendengar suara azan, kita disunnahkan untuk menjawab azan tersebut sebagaimana yang diucapkan oleh muazin, kecuali apabila muazin mengucapkan "Hayya alash shalah", "Hayya alal falah", dan "Ashsalatu khairum minan naum" (dalam azan Subuh).
Bila muazin mengucapkan "Hayya alash shalah" atau "Hayya alal falah", disunnahkan menjawabnya dengan lafazh "La haula wa la quwwata illa billahil 'aliyyil 'azhim" yang artinya "Tiada daya dan tiada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah".
Dan bila muazin mengucapkan "Ashsalatu khairum minan naum" dalam azan Subuh, disunnahkan menjawabnya dengan lafazh "Shadaqta wa bararta wa ana 'ala dzalika minasy syahidin" yang artinya "Benarlah engkau dan baguslah ucapanmu dan saya termasuk orang-orang yang menyaksikan kebenaran itu".

http://www.youtube.com/watch?v=gC5zrav73aE 

Selasa, 06 November 2012

NABI AYYUB AS





Berkata salah seorang malaikat kepada kawan-kawannya yang lagi berkumpul berbincang-bincang tentang tingkah-laku makhluk Allah, jenis manusia di atas bumi : "Aku tidak melihat seorang manusia yang hidup di atas bumi Allah yang lebih baik dari hamba Allah Ayyub". Ia adalah seorang mukmin sejati ahli ibadah yang tekun. Dari rezeki yang luas dan harta kekayaan yang diberikan oleh Allah kepadanya, ia mengenepikan sebahagian untuk menolong orang-orang yang memerlukan para fakir miskin. Hari-harinya terisi penuh dengan ibadah, sujud kepada Allah dan bersyukur atas segala nikmat dan kurnia yang diberikan kepadanya."




Para kawanan malaikat yang mendengarkan kata-kata pujian dan sanjungan untuk diri Ayyub mengakui kebenaran itu bahkan masing-masing menambahkan lagi dengan menyebut beberapa sifat dan tabiat yang lain yang ada pada diri Ayyub.

Percakapan para malaikat yang memuji-muji Ayyub itu didengar oleh Iblis yang sedang berada tidak jauh dari tempat mereka berkumpul. Iblis merasa panas hati dan jengkel mendengar kata-kata pujian bagi seseorang dari keturunan Adam yang ia telah bersumpah akan disesatkan ketika ia dikeluarkan dari syurga kerananya. Ia tidak rela melihat seorang dari anak cucu anak Nabi Adam menjadi seorang mukmin yang baik, ahli ibadah yang tekun dan melakukan amal soleh sesuai dengan perintah dan petunjuk Allah.



Pergilah Iblis mendatangi Ayyub untuk menyatakan sendiri sampai sejauh mana kebenaran kata-kata pujian para malaikat itu kepada diri Ayyub. Ternyata memang benar Ayyub patut mendapat segala pujian itu. Ia mendatangi Ayyub bergelimpangan dalam kenikmatan duniawi, tenggelam dalam kekayaan yang tidak ternilai besarnya, mengepalai keluarga yang besar yang hidup rukun, damai dan bakti. Ia mendapati Ayyub tidak tersilau matanya oleh kekayaan yang ia miliki dan tidak tergoyahkan imannya oleh kenikmatan duniawinya. Siang dan malam ia sentiasa menemui Ayyub berada di mihrabnya melakukan solat, sujud dan tasyakur kepada Allah atas segala pemberian-Nya. Mulutnya tidak berhenti menyebut nama Allah berzikir, bertasbih dan bertahmid. Ayyub ditemuinya sebagai seorang yang penuh kasih sayang terhadap sesama makhluk Allah yang lemah, yang lapar diberinya makan, yang telanjang diberinya pakaian, yang bodoh diajar dan dipimpin dan yang salah ditegur.



Iblis gagal dalam usahanya memujuk Ayyub. Telinga Ayyub pekak terhadap segala bisikannya dan fitnahannya dan hatinya yang sudah penuh dengan iman dan takwa tidak ada tempat lagi bagi bibit-bibit kesesatan yang ditaburkan oleh Iblis. Cinta dan taatnya kepada Allah merupakan benteng yang ampuh terhadap serangan Iblis dengan peluru kebohongan dan pemutar-balikan kebenaran yang semuanya mental tidak mendapatkan sasaran pada diri Ayyub. Akan tetapi Iblis bukanlah Iblis jika ia berputus asa dan kegagalannya memujuk Ayyub secara langsung. Ia pergi menghadapi kepada Allah untuk menghasut. Ia berkata : " Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyub yang menyembah dan memuji-muji-Mu, bertasbih dan bertahmid menyebut nama-Mu, ia tidak berbuat demikian seikhlas dan setulus hatinya kerana cinta dan taat pada-Mu. Ia melakukan itu semua dan berlaku sebagai hamba yang soleh tekun beribadah kepada-Mu hanya kerana takut akan kehilangan semua kenikmatan duniawi yang telah Engkau kurniakan kepadanya. Ia takut, jika ia tidak berbuat demikian , bahawa engkau akan mencabut daripadanya segala nikmat yang telah ia perolehnya berupa puluhan ribu haiwan ternakan, beribu-ribu hektar tanah ladang, berpuluh-puluh hamba sahaya dan pembantu serta keluarga dan putera-puteri yang soleh dan bakti. Tidakkah semuanya itu patut disyukuri untuk tidak terlepas dari pemilikannya dan habis terkena musibah? Di samping itu Ayyub masih mengharapkan agar kekayaannya bertambah menjadi berlipat ganda. Untuk tujuan dan maksud itulah Ayyub mendekatkan diri kepada-Mu dengan ibadah dan amal-amal solehnya dan andai kata ia terkena musibah dan kehilangan semua yang ia miliki, nescaya ia akan mengubah sikapnya dan akan melalaikan kewajibannya beribadah kepada-Mu."



Allah berfirman kepada Iblis : " Sesungguhnya Ayyub adalah seorang hamba-Ku yang sangat taat kepada-Ku, ia seorang mukmin sejati, apa yang ia lakukan untuk mendekati dirinya kepada-Ku adalah semata-mata didorong oleh iman yang teguh dan taat yang bulat kepada-Ku. Iman dan takwa yang telah meresap di dalam lubuk hatinya serta menguasai seluruh jiwa raganya tidak akan tergoyah oleh perubahan keadaan duniawinya. Cintanya kepada-Ku yang telah menjiwai amal ibadah dan kebajikannya tidak akan menurun dan menjadi kurang, musibah apa pun yang akan melanda dalam dirinya dan harta kekayaannya. Ia yakin seyakin-yakinnya bahwa apa yang ia miliki adalah pemberian-Ku yang sewaktu-waktu dapat Aku cabut daripadanya atau menjadikannya bertambah berlipat ganda. Ia bersih dari semua tuduhan dan prasangkamu. Engkau memang tidak rela melihathamba-hamba-Ku anak cucu Adan berada di atas jalan yang benar, lurus dan tidak tersesat. Dan untuk menguji keteguhan hati Ayyub dan kebulatan imannya kepada-Ku dan kepada takdir-Ku, Aku izinkan engkau untuk mencuba menggodanya serta memalingkannya daripada-Ku. Kerahkanlah pembantu-pembantumu menggoda Ayyub melalui harta kekayaannya dan keluarganya. Cuba binasakanlah harta kekayaannya dan cerai-beraikanlah keluarganya yang rukun dan bahagia itu dan lihatlah sampai di mana kebolehanmu menyesatkan dan merusakkan iman hamba-Ku Ayyub itu."



Dikumpulkanlah oleh Iblis syaitan-syaitan, pembantunya, diberitahukan bahawa ia telah mendapatkan izin dari Tuhan untuk mengganyang ayyub, merusak aqidah dan imannya dan memalingkannya dari Tuhannya yang ia sembah dengan sepenuh hati dan keyakinan. Jalannya ialah dengan memusnahkan harta kekayaannya sehingga ia menjadi seorang yang papa dan miskin, mencerai-beraikan keluarganya sehingga ia menjadi sebatang kara tidak berkeluarga, Iblis berseru kepada pembantu-pembantunya itu agar melaksanakan tugas penyesatan Ayyub sebaik-baiknya dengan segala daya dan siasat apa saja yang mereka dapat lakukan.



Dengan berbagai cara gangguan, akhirnya berhasillah kawanan syaitan itu menghancurkan-luluhkan kekayaan Ayyub, yang dimulai dengan haiwan-haiwan ternakannya yang bergelimpangan mati satu persatu sehingga habis sama sekali, kemudian disusul ladang-ladang dan kebun-kebun tanamannya yang rusak menjadi kering dan gedung-gedungnya yang terbakar habis dimakan api, sehingga dalam waktu yang sangat singkat sekali Ayyub yang kaya-raya tiba-tiba menjadi seorang papa miskin tidak memiliki selain hatinya yang penuh iman dan takwa serta jiwanya yang besar.



Setelah berhasil menghabiskan kekayaan dan harta milik Ayyub datanglah Iblis kepadanya menyerupai sebagai seorang tua yang tampak bijaksana dan berpengalaman dan berkata: "Sesungguhnya musibah yang menimpa dirimu sangat dahsyat sekali sehingga dalam waktu yang begitu sempit telah habis semua kekayaanmu dan hilang semua harta kekayaan milikmu. Kawan-kawanmu merasa sedih ssedang musuh-musuhmu bersenang hati dan gembira melihat penderitaan yang engkau alami akibat musibah yang susul-menyusul melanda kekayaan dan harta milikmu. Mereka bertanya-tanya, gerangan apakah yang menyebabkan Ayyub tertimpa musibah yang hebat itu yang menjadikannya dalam sekelip mata kehilangan semua harta miliknya. Sementara orang dari mereka berkata bahawa mungkin kerana Ayyub tidak ikhlas dalam ibadah dan semua amal kebajikannya dan ada yang berkata bahawa andaikan Allah, Tuhan Ayyub, benar-benar berkuasa, nescaya Dia dapat menyelamatkan Ayyub dari malapetaka, mengingat bahawa ia telah menggunakan seluruh waktunya beribadah dan berzikir, tidak pernah melanggar perintah-Nya . Seorang lain menggunjing dengan mengatakan bahawa mungkin amal ibadah Ayyub tidak diterima oleh Tuhan, kerana ia tidak melakukan itu dari hati yang bersih dan sifat ria dan ingin dipuji dan banyak lagi cerita-cerita orang tentang kejadian yang sangat menyedihkan itu. Akupun menaruh simpati kepadamu, hai Ayyub dan turut bersedih hati dan berdukacita atas nasib yang buruk yang engkau telah alami."



Iblis yang menyerupai sebagai orang tua itu - mengakhiri kata-kata hasutannya seraya memperhatikan wajah Ayyub yang tetap tenang berseri-seri tidak menampakkan tanda-tanda kesedihan atau sesalan yang ingin ditimbulkan oleh Iblis dengan kata-kata racunnya itu. Ayyub berkata kepadanya : "Ketahuilah bahawa apa yang aku telah miliki berupa harta benda, gedung-gedung, tanah ladang dan haiwan ternakan serta lain-lainnya semuanya itu adalah barangan titipan Allah yang diminta-Nya kembali setelah aku cukup menikmatinya dan memanfaatkannya sepanjang masa atau ibarat barang pinjaman yang diminta kembali oleh tuannya jika saatnya telah tiba. Maka segala syukur dan ouji bagi Allah yang telah memberikan kurniaan-Nya kepadaku dan mencabutnya kembali pula dari siapa yang Dia kehendaki dan mencabutnya pula dari siapa saja yang Dia suka. Dia adalah yang Maha Kuasa mengangkat darjat seseorang atau menurunkannya menurut kehendak-Nya. kami sebagai hamba-hamba makhluk-Nya yang lemah patut berserah diri kepada-Nya dan menerima segala qadha' dan takdir-Nya yang kadang kala kami belum dapat mengerti dan menangkap hikmah yang terkandung dalam qadha' dan takdir-Nya itu."



Selesai mengucapkan kata-kata jawabnya kepada Iblis yang sedang duduk tercenggang di depannya, menyungkurlah Ayyub bersujud kepada Allah memohon ampun atas segala dosa dan keteguhan iman serta kesabaran atas segala cubaan dan ujian-Nya.

Iblis segera meninggalkan rumah Ayyub dengan rasa kecewa bahawa racun hasutannya tidak termakan oleh hati hamba Allah yang bernama Ayyub itu. Akan tetapi Iblis tidak akan pernah berputus asa melaksanakan sumpah yang ia telah nyatakan di hadapan Allah dan malaikat-Nya bahawa ia akan berusaha menyesatkan Bani Adam di mana saja mereka berada. Ia merencanakan melanjutkan usaha gangguan dan godaannya kepada Ayyub lewat penghancuran keluarganya yang sedang hidup rukun, damai dan saling hidup cinta mencintai dan harga menghargai. Iblis datang lagi menghadap kepada Tuhan dan meminta izin meneruskan usahanya mencuba Ayyub. Berkata ia kepada Tuhan: "Wahai Tuhan, Ayyub tidak termakan oleh hasutanku dan sedikit pun tidak goyah iman dan aqidahnya kepada-Mu meski pun ia sudah kehilangan semua kekayaannya dan kembali hidup papa dan miskin kerana ia masih mempunyai putera-putera yang cekap yang dapat ia andalkan untuk mengembalikan semua yang hilang itu dan menjadi sandaran serta tumpuan hidupnya di hari tuanya. Menurut perkiraanku, Ayyub tidak akan bertahan jika musibah yang mengenai harta kekayaannya mengenai keluarganya pula, apa lagi bila ia sangat sayang dan mencintai, maka izinkanlah aku mencuba kesabarannya dan keteguhannya kali ini melalui godaan yang akan aku lakukan terhadap keluarganya dan putera-puteranya yang ia sangat sayang dan cintai itu."



Allah meluluskan permintaan Iblis itu dan berfirman: "Aku mengizinkan engkau mencuba sekali lagi menggoyahkan hati Ayyub yang penuh iman, tawakkal dan kesabaran tiu dengan caramu yang lain, namun ketahuilah bahawa engkau tidak akan berhasil mencapai tujuanmu melemahkan iman Ayyub dan menipiskan kepercayaannya kepada-Ku."

Iblis lalu pergi bersama pembantu-pembantunya menuju tempat tinggal putera-putera Ayyub di suatu gedung yang penuh dengan sarana-sarana kemewahan dan kemegahan, lalu digoyangkanlah gedung itu hingga roboh berantakan menjatuhi dan menimbuni seluruh penghuninya. Kemudian cepat-cepatlah pergi Iblis mengunjungi Ayyub di rumahnya, menyerupai sebagai seorang dari kawan-kawan Ayyub, yang datang menyampaikan takziah dan menyatakan turut berdukacita atas musibah yang menimpa puteranya. Ia berkata kepada Ayyub dalam takziahnya: "Hai Ayyub, sudahkah engkau melihat putera-puteramu yang mati tertimbun di bawah runtuhan gedung yang roboh akibat gempa bumi? Kiranya, wahai Ayyub, Tuhan tidak menerima ibadahmu selama ini dan tidak melindungimu sebagai imbalan bagi amal solehmu dan sujud rukukmu siang dan malam."



Mendengar kata-kata Iblis itu, menangislah Ayyub tersedu-sedu seraya berucap: "Allahlah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil kembali. Segala puji bagi-Nya, Tuhan yang Maha Pemberi dan Maha Pencabut."



Iblis keluar meninggalkan Ayyub dalam keadaan bersujud munajat dengan rasa jengkel dan marah kepada dirinya sendiri kerana telah gagal untuk kedua kalinya memujuk dan menghasut Ayyub. Ia pergi menghadap Tuhan dan berkata: "Wahai Tuhan, Ayyub sudah kehilangan semua harta benda dan seluruh kekayaannya dan hari ini ia ditinggalkan oleh putera-puteranya yang mati terbunuh di bawah runtuhan gedung yang telah kami hancurkan , namun ia masih tetap dalam keadaan mentalnya yang kuat dan sihat. Ia hanya menangis tersedu-sedu namun batinnya, jiwanya, iman dan kepercayaannya kepada-Mu tidak tergoyah sama sekali. Izinkan aku mencubanya kali ini mengganggu kesihatan bandanya dan kekuatan fizikalnya, kerana jika ia sudah jatuh sakit dan kekuatannya menjadi lumpuh, nescaya ia akan mulai malas melakukan ibadah dan lama-kelamaan akan melalaikan kewajibannya kepada-Mu dan menjadi lunturlah iman dan akidahnya."



Allah tetap menentang Iblis bahawa ia tidak akan berhasil dalam usahanya menggoda Ayyub walau bagaimana pun besarnya musibah yang ditimpakan kepadanya dan bagaimana pun beratnya cubaan yang dialaminya. Kerana Allah telah menetapkan dia menjadi teladan kesabaran, keteguhan iman dan ketekunan beribadah bagi hamba-hamba-Nya. Allah berfirman kepada Iblis: "Bolehlah engkau mencuba lagi usahamu mengganggu kesihatan badan dan kekuatan fizikal Ayyub. Aku akan lihat sejauh mana kepandaianmu mengganggu dan menghamba pilihan-Ku ini."



Iblis lalu memerintahkan kepada anak buahnya agar menaburkan benih-benih baksil penyakit ke dalam tubuh Ayyub. Baksil-baksil ysng ditaburkan itu segera mengganyang kesihatan Ayyub yang menjadikan ia menderita berbagai-bagai penyakit, deman panas, batuk dan lain-lain lagi sehingga menyebabkan badannya makin lama makin kurus, tenaganya makin lemah dan wajahnya menjadi pucat tidak berdarah dan kulitnya menjadi berbintik-bintik . Ianya akhir dijauhi oleh orang-orang sekampungnya dan oleh kawan-kawan dekatnya, kerana penyakit Ayyub dapat menular dengan cepatnya kepada orang-orang yang menyentuhnya atau mendekatinya. Ia menjadi terasing daripada pergaulan orang di tempatnya dan hanya isterinyalah yang tetap mendampinginya, merawatnya dengan penuh kesabaran dan rasa kasih sayang, melayani segala keperluannya tanpa mengeluh atau menunjukkan tanda kesal hati dari penyakit suaminya yang tidak kunjung sembuh itu.



Iblis memperhatikan Ayyub dalam keadaan yang sudah amat parah itu tidak meninggalkan adat kebiasaannya, ibadahnya, zikirnya, ia tidak mengeluh, tidak bergaduh, ia hanya menyebut nama Allah memohon ampun dan lindungan-Nya bila ia merasakan sakit. Iblis merasa kesal hati dan jengkel melihat ketabahan hati Ayyub menanggung derita dan kesabarannya menerima berbagai musibah dan ujian. Iblis kehabisan akal, tidak tahu apa usaha lagi yang harus diterapkan bagi mencapai tujuannya merusakkan aqidah dan iman Ayyub. Ia lalu meminta bantuan fikiran dari para kawan-kawan pembantunya, apa yang harus dilakukan lagi untuk menyesatkan Ayyub setelah segala usahanya gagal tidak mencapai sasarannya.



Bertanya mereka kepadanya: "Di manakah kepandaianmu dan tipu dayamu yang ampuh serta kelincinanmu menyebar benih was-was dan ragu ke dalam hati manusia yang biasanya tidak pernah sia-sia?" Seorang pembantu lain berkata: "Engkau telah berhasil mengeluarkan Adam dari syurga, bagaimanakah engkau lakukan itu semuanya sampai berhasilnya tujuanmu itu?"

"Dengan memujuk isterinya", jawab Iblis. "Jika demikian" berkata syaitan itu kembali, "Laksanakanlah siasat itu dan terapkanlah terhadap Ayyub, hembuskanlah racunmu ke telinga isterinya yang tampak sudah agak kesal merawatnya, namun masih tetap patuh dan setia."



"Benarlah dan tepat fikiranmu itu," kata Iblis, "Hanya tinggal itulah satu-satu jalan yang belum aku cuba. Pasti kali ini dengan cara menghasut isterinya aku akan berhasil melaksanakan akan maksudku selama ini."

Dengan rencana barunya pergilah Iblis mendatangi isteri Ayyub, menyamar sebagai seorang kawan lelaki yang rapat dengan suaminya. Ia berkata kepada isteri Ayyub: "Apa khabar dan bagaimana keadaan suamimu di ketika ini?"

Seraya mengarahkan jari telunjuknya ke arah suaminya, berkata isteri Ayyub kepada Iblis itu, tamunya: "Itulah dia terbaring menderita kesakitan, namun mulutnya tidak henti-hentinya berzikir menyebut nama Allah. Ia masih berada dalam keadaan parah, mati tidak hidup pun tidak."



Kata-kata isteri Ayyub itu menimbulkan harapan bagi Iblis bahawa ia kali ini akan berhasil maka diingatkanlah isteri Ayyub akan masa mudanya di mana ia hidup dengan suaminya dalam keadaan sihat, bahagia dan makmur dan dibawakannyalah kenang-kenangan dan kemesraan. Kemudian keluarlah Iblis dari rumah Ayyub meninggalkan isteri Ayyub duduk termenung seorang diri, mengenangkan masa lampaunya, masa kejayaan suaminya dan kesejahteraan hidupnya, membanding-bandingkannya dengan masa di mana berbagai penderitaan dan musibah dialaminya, yang dimulai dengan musnahnya kekayaan dan harta-benda, disusul dengan kematian puteranya, dan kemudian yang terakhirnya diikuti oleh penyakit suaminya yang parah yang sangat menjemukan itu. Isteri Ayyub merasa kesepian berada di rumah sendirian bersama suaminya yang terbaring sakit, tiada sahabat tiada kerabat, tiada handai, tiada taulan, semua menjauhi mereka kerana khuatir kejangkitan penyakit kulit Ayyub yang menular dan menjijikkan itu.



Seraya menarik nafas panjang datanglah isteri Ayyub mendekati suaminya yang sedang menderita kesakitan dan berbisik-bisik kepadanya berkata: "Wahai sayangku, sampai bilakah engkau terseksa oleh Tuhanmu ini? Di manakah kekayaanmu, putera-puteramu, sahabat-sahabatmu dan kawan-kawan terdekatmu? Oh, alangkah syahdunya masa lampau kami, usia muda, badan sihat, sarana kebahagiaan dan kesejahteraan hidup tersedia dikelilingi oleh keluarga dan terulang kembali masa yang manis itu? Mohonlah wahai Ayyub dari Tuhanmu, agar kami dibebaskan dari segala penderitaan dan musibah yang berpanjangan ini."



Berkata Ayyub menjawab keluhan isterinya: "Wahai isteriku yang kusayangi, engkau menangisi kebahagiaan dan kesejahteraan masa yang lalu, menangisi anak-anak kita yang telah mati diambil oleh Allah dan engkau minta aku memohon kepada Allah agar kami dibebaskan dari kesengsaraan dan penderitaan yang kami alami masa kini. Aku hendak bertanya kepadamu, berapa lama kami tidak menikmati masa hidup yang mewah, makmur dan sejahtera itu?" "Lapan puluh tahun", jawab isteri Ayyub. "Lalu berapa lama kami telah hidup dalam penderitaan ini?" tanya lagi Ayyub. "Tujuh tahun", jawab si isteri.



"Aku malu", Ayyub melanjutkan jawabannya," memohon dari Allah membebaskan kami dari sengsaraan dan penderitaan yang telah kami alami belum sepanjang masa kejayaan yang telah Allah kurniakan kepada kami. Kiranya engkau telah termakan hasutan dan bujukan syaitan, sehingga mulai menipis imanmu dan berkesal hati menerima taqdir dan hukum Allah. Tunggulah ganjaranmu kelak jika aku telah sembuh dari penyakitku dan kekuatan badanku pulih kembali. Aku akan mencambukmu seratus kali. Dan sejak detik ini aku haramkan diriku makan dan minum dari tanganmu atau menyuruh engkau melakukan sesuatu untukku. Tinggalkanlah aku seorang diri di tempat ini sampai Allah menentukan taqdir-Nya."



Setelah ditinggalkan oleh isterinya yang diusir, maka Nabi Ayyub tinggal seorang diri di rumah, tiada sanak saudara, tiada anak dan tiada isteri. Ia bermunajat kepada Allah dengan sepenuh hati memohon rahmat dan kasih sayang-Nya. Ia berdoa: "Wahai Tuhanku, aku telah diganggu oleh syaitan dengan kepayahan dan kesusahan serta seksaan dan Engkaulah wahai Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang."

Allah menerima doa Nabi Ayyub yang telah mencapai puncak kesabaran dan keteguhan iman serta berhasil memenangkan perjuangannya melawan hasutan dan bujukan Iblis. Allah mewahyukan firman kepadanya: "Hantamkanlah kakimu ke tanah. Dari situ air akan memancur dan dengan air itu engkau akan sembuh dari semua penyakitmu dan akan pulih kembali kesihatan dan kekuatan badanmu jika engkau gunakannya untuk minum dan mandimu."



Dengan izin Allah setelah dilaksanakan petunjuk Illahi itu, sembuhlah segera Nabi Ayyub dari penyakitnya, semua luka-luka kulitnya menjadi kering dan segala rasa pedih hilang, seolah-olah tidak pernah terasa olehnya. Ia bahkan kembali menampakkan lebih sihat dan lebih kuat daripada sebelum ia menderita.

Dalam pada itu isterinya yang telah diusir dan meninggalkan dia seorang diri di tempat tinggalnya yang terasing, jauh dari jiran, jauh dari keramaian kota, merasa tidak sampai hati lebih lama berada jauh dari suaminya, namun ia hampir tidak mengenalnya kembali, kerana bukanlah Ayyub yang ditinggalkan sakit itu yang berada didepannya, tetapi Ayyub yang muda belia, segar bugar, sihat afiat seakan-akan tidak pernah sakit dan menderita. Ia segera memeluk suaminya seraya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan rahmat dan kurnia-Nya mengembalikan kesihatan suaminya bahkan lebih baik daripada keadaan asalnya.



Nabi Ayyub telah bersumpah sewaktu ia mengusir isterinya akan mencambuknya seratus kali bila ia sudah sembuh. Ia merasa wajib melaksanakan sumpahnya itu, namun merasa kasihan kepada isterinya yang sudah menunjukkan kesetiaannya dan menyekutuinya di dalam segala duka dan deritanya. Ia bingung, hatinya terumbang-ambingkan oleh dua perasaan, ia merasa berwajiban melaksanakan sumpahnya, tetapi isterinya yang setia dan bakti itu tidak patut, kata hatinya, menjalani hukuman yang seberat itu. Akhirnya Allah memberi jalan keluar baginya dengan firman-Nya: "Hai Ayyub, ambillah dengan tanganmu seikat rumput dan cambuklah isterimu dengan rumput itu seratus kali sesuai dengan sesuai dengan sumpahmu, sehingga dengan demikian tertebuslah sumpahmu."



Nabi Ayyub dipilih oleh Allah sebagai nabi dan teladan yang baik bagi hamba-hamba_Nya dalam hal kesabaran dan keteguhan iman sehingga kini nama Ayyub disebut orang sebagai simbul kesabaran. Orang menyatakan , si Fulan memiliki kesabaran Ayyub dan sebagainya. Dan Allah telah membalas kesabaran dan keteguhan iman Ayyub bukan saja dengan memulihkan kembali kesihatan badannya dan kekuatan fizikalnya kepada keadaan seperti masa mudanya, bahkan dikembalikan pula kebesaran duniawinya dan kekayaan harta-bendanya dengan berlipat gandanya. Juga kepadanya dikurniakan lagi putera-putera sebanyak yang telah hilang dan mati dalam musibah yang ia telah alami. Demikianlah rahmat Tuhan dan kurnia-Nya kepada Nabi Ayyub yang telah berhasil melalui masa ujian yang berat dengan penuh sabar, tawakkal dan beriman kepada Allah.



Kisah Ayyub di atas dapat dibaca dalam Al-Quran surah Shaad ayat 41 sehingga ayat 44 dan surah Al-Anbiaa' ayat 83 dan 84